Menurut Ristajumena (61), mantan Kepala Dukuh Mendiro, dahulu di Padukuhan Mendiro terdapat grup ketoprak terkenal, bernama Astuti Budoyo. Kelompok ketoprak itu berdiri sebelum peristiwa G 30 S/PKI meletus. Mereka tergabung dalam Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA). Selain pentas keliling dengan membangun tobong ketoprak, mereka juga menghibur penggemarnya lewat siaran ketoprak di RRI Nusantara II, Jalan Ahmad Jazuli, Yogyakarta.
Bintang panggung terkenal kala itu: Ripto, Jiu, Wakidah, Prapti, dan Surono. Karena tidak ada generasi penerusnya, kini Astuti Budoyo tinggal nama. Oleh Ristajumena, nama Astuti Budoyo kemudian digunakan untuk nama bregada prajurit yang dipimpinnya. Anggotanya 30 orang. Saat tulisan ini dibuat, NIK-nya sedang diurus di Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, karena ada kesalahan penulisan nama.
Setiap acara tradisi Nyadran, Bregada Astuti Budoyo tampil dalam arak-arakan memikul jodhang berisi makanan (tumpeng nasi uduk, ingkung, peyek teri, dan pisang raja). Makanan yang ditampung jodhang tersebut kemudian dibagikan kepada peserta tahlil di dalam masjid, setelah dibacakan doa oleh Rois.