Jumlah seluruh warga Padukuhan Mendiro sebanyak 470 orang. Jumlah kepala keluarga (KK sejumlah 174. Mayoritas warga beragama Islam, lainnya Kristen dan Katholik. Meskipun agama berlainan, namun kerukunan tetap terjaga. Saling menghormati warga antara satu dengan lainnya. Apalagi pada saat acara tradisi Nyadran, yang dilaksanakan tiap tahun pada tanggal 22 Ruwah, tampak sekali keakraban mereka. Seluruh warga berduyun-duyun datang ke halaman masjid, sambil membawa makanan dan minuman, tanpa memandang perbedaan agama.
Tidak hanya warga setempat, warga lain padukuhan, seperti Wedomartani, Ngemplak kidul, Pakem, Samirono, Klidon, Sembung, pun ikut nyadran di makam Padukuhan Mendiro. Mereka memiliki leluhur yang dimakamkan di sasanalaya Mendiro. Leluhur mereka perlu diziarahi dan wajib didoakan.
Tradisi Nyadran yang dilakukan pada bulan Sya’ban (kalender Hijriyah) atau Ruwah (kalender Jawa) ini, antara lain berupa rangkaian kegiatan membersihkan makam atau yang disebut besik, ziarah kubur, dan kenduri yang didahului dengan melafalkan kalimat toyyibah, seperti beberapa surat dan beberapa ayat dari Al-Qur’an, zikir, tahlil, dan doa serta ditutup dengan santap menu kenduri bersama.