Padukuhan Mendiro berada di selatan Jalan Besi Jangkang. Kalau kita dari arah selatan, menyusuri Jalan Kaliurang ke utara. Tiba di simpang tiga Besi atau disebut juga Buk Bengkong di Jalan Kaliurang Km 13, belok ke kanan atau arah ke timur sejauh kira-kira 200 meter. Di sana ada simpang empat (sebelah timur Rumah Sakit Gramedika 10), belok ke selatan sekira 800 meter. Kemudian ada gapura bercat merah muda di kiri jalan, tanpa nama padukuhan, di situlah lokasinya.
Gombel Bawuk dan Sambernyawa
Menurut Subadi (73), warga Padukuhan Mendiro, cikal bakal atau orang yang pertama kali babad alas membangun padukuhan bernama Gombel Bawuk. Makamnya berada di Padukuhan Mendiro. Hanya saja Gombel Bawuk yang ada di Padukuhan Mendiro ini laki-laki ataukah perempuan, tidak ada yang tahu. Karena, di Cangkringan juga ada Gombel Bawuk. Orang Cangkringan mempercayai Gombel Bawuk yang ada di sana merupakan pasangan Gombel Bawuk yang ada di Mendiro. Maka di Cangkringan ada Gombel Bawuk, di Mendiro juga ada Gombel Bawuk.
Dialah orang yang pertama kali membuka hutan untuk tempat tinggalnya. Di hutan tersebut terdapat pohon beringin besar yang sudah ratusan tahun umurnya. Batangnya sangat kuat, akar tunggangnya panjang, masuk ke dalam tanah sangat dalam, sehingga pohon itu tampak kokoh. Daunnya rindang dilengkapi sulur-sulur akar gantung, bisa menaungi banyak orang yang berteduh di bawahnya.
Tinggi pohon beringin itu 25 meter dengan ukuran batangnya berdiameter dua meter. Akar tunggangnya menembus bumi menyerap nutrisi dan air. Di sebelahnya muncul mata air. Jernih sekali airnya. Rupanya pohon beringin itu memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air. Maka pohon itu tidak ditebang. Gombel Bawuk kemudian mendirikan rumah tinggal dari bahan utama kayu dan beratap daun rumbia. Rumah tersebut berada di sebelah selatan pohon beringin, menghadap ke utara.
Tanah lapang luas yang sebagian telah dijadikan tempat tinggalnya, kemudian dinamakan Mandira. Nama Mandira diambil dari nama lain dari pohon beringin atau disebut juga waringin. Seiring berjalannya waktu, tumbuh kesadaran dalam diri Gombel Bawuk, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Gombel Bawuk yakin akan hal itu maka timbul niatnya membuat makam di sisi utara tempat tinggalnya.
Pada saat Gombel Bawuk membuat makam, datanglah pasangan pengelana dari arah timur (Jawa Timur), bernama Kiai Sambernyawa dan Nyai Sambernyawa (istrinya). Mereka membantu Gombel Bawuk membuat makam.
Pada saat melepas lelah, Kiai Sambernyawa berkata kepada Gombel Bawuk, “Aku sesuk nek mati, uga pengin dikubur ing papan kene.” (Aku kelak kalau meninggal, juga ingin dimakamkan di sini).
Spontan Gombel Bawuk menanggapi, “Nek ngono, ora perlu sesuk- sesuk, saiki wae kowe matia, terus takpendhem ing papan kene.” (Kalau begitu, tidak perlu besok-besok, sekarang saja kamu mati, lalu kumakamkan di sini).
Seketika Kiai Sambernyawa meninggal dunia. Demikian pula istrinya. Kemudian mereka dimakamkan di makam yang mereka buat, di ujung paling utara. Dahulu makam ini dikenal wingit (angker). Rumput liar tidak bisa tumbuh, maka makam Kiai dan Nyai Sambernyawa selalu bersih.
Pohon Beringin Ditebang
Suatu malam seorang kapitan Cina dari Wonosobo bernama Tan Jin Sing kemalaman di jalan. Ia lalu singgah di rumah Gombel Bawuk. Ia bermaksud ke Keraton Yogyakarta untuk menagih janji Sultan Hamengku Buwono III. Dahulu selama Sri Sultan Hamengku Buwono III masih berkedudukan sebagai putra mahkota, bernama Raden Mas Surojo, Tan Jin Sing banyak membantu, baik moral maupun materi. Sebagai balas budi, Raden Mas Surojo berjanji akan memberinya tanah 1000 cacah di wilayah Yogyakarta dan mengangkatnya menjadi Bupati Yogyakarta dengan gelar KRT Secadiningrat.
Keesokan paginya setelah sarapan, Tan Jin Sing berkemas akan berangkat ke Keraton Yogyakarta. Sambil menunggu kudanya merumput, Tan Jin Sing berkata kepada Gombel Bawuk, “Pohon beringin di depan rumahmu ini suatu saat pasti akan membawa masalah.” Gombel Bawuk terkejut, “Maksudmu?”
“Karena yang berhak menanam mandira atau pohon beringin itu hanyalah seorang raja. Pohon beringin melambangkan pengayoman, keadilan, dan sifat abadi. Juga melambangkan manunggaling kawula Gusti atau bersatunya manusia dengan Tuhannya atau bersatunya rakyat dengan pemimpinnya. Maka di Alun-Alun Keraton Yogyakarta ditanam pohon beringin, dan menjadi ciri khas Alun-Alun Keraton Yogyakarta,” kata Tan Jin Sing.
Kata Tan Jin Sing pun menjadi kenyataan. Seminggu kemudian datanglah utusan dari Keraton Yogyakarta, dipimpin oleh Ngabehi Surantanu. Ia menyampaikan perintah Sultan, agar Gombel Bawuk melenyapkan mandira yang ada di sekitar tempat tinggalnya.
Padukuhan Mandira yang semula sepi, lambat laun menjadi kawasan yang ramai. Namun, banyak orang tidak mengetahui arti mandira itu, maka lafal pengucapannya pun lalu bergeser menjadi mendiro. Karena perkembangan zaman, sekarang menjadi Padukuhan Mendiro.
Walat Makam Sambernyawa
Pada zaman Padukuhan Mendiro dipimpin Tejo Suwarno, tahun 2013, makam Mendiro dibangun tembok keliling. Pemilik tanah sebelah utara makam tidak mau tanahnya diterjang makam. Akibatnya tembok makam terlalu mepet dengan makam Kiai dan Nyai Sambernyawa. Dukuh Tejo menghendaki batu nisan Kiai dan Nyai Sambernyawa digeser ke selatan. Maksudnya, jika ada orang berjalan di sisi utara, supaya tidak melangkahi makam Kiai dan Nyai Sambernyawa. Namun, tidak seorang pun berani melaksanakan perintah Tejo.
“Ora apa-apa, geseren! Mengko nek ana apa-apa, aku sing tanggung.” (Tidak apa-apa, geserlah! Nanti kalau ada apa-apa, aku yang menanggung), kata Tejo.
Namun, tetap tidak ada yang berani. Tiba-tiba istri Tejo menyuruh Kepala Dukuh Mendiro itu mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di selatan padukuhan. Pengiriman makanan dan minuman itu untuk diberikan kepada pekerja yang tengah mencangkul di sawah.
Ketika berjalan menyusuri tepian selokan, tiba-tiba Tejo terpeleset dan tercebur di selokan. Kepalanya membentur batu hingga darahnya bercucuran. Untunglah pekerjanya cepat menolong. Tejo segera dibawa ke rumah sakit Panti Nugroho. Berhari-hari tidak ada kemajuan. Tejo tetap saja tidak sadarkan diri. Pingsan. Warga padukuhan berkeyakinan bahwa musibah tersebut akibat walat atau karma dari makam Sambernyawa. Setelah warga Mendiro memohonkan ampun dan melakukan tahlil di masjid dekat makam, barulah Tejo sehat kembali. Sejak itu, orang percaya bahwa makam Kiai dan Nyai Sambernyawa memang wingit. Tidak boleh asal bicara di dalam makam itu.
Penulis : Mulyantara